MUAK

  • by Haci (29 April 2020)
Malam yang meradang, di setiap sela hasrat yang menggebu---keringat tipis mengucur jatuh menyatu dengan tanah. Bukanlah suatu kehidupan yang begitu menyenangkan sebenarnya, ia lebih kepada suatu kehidupan yang mengindahkan kejenuhan. Si Lenis merangkul penuh waktu dalam kejenuhan.

"Liyan, buanglah semua kebodohan yang nampak selalu saja kau benturkan", teriak Lenis nada sinisnya. Membahasakan secara moralis yang mengedepankan dirinya sebagai proporsi diatas rata-rata sesuai tonggak. Membentuk pola yang sudah ter-skemakan menjadi bentuk tanpa perubahan---berputar ke arah yang sama tanpa pertimbangan.

Sang Liyan tak mengindahkan apa pun perkataan dari Lenis. Dia tetap memiliki pelbagai skema dunia yang nilainya tidak terbatas pada isapan jempol saja. Terobosan yang selalu merangsang akal dari pelbagai koneksi bercabang tidak teratur. Sebuah paradigma yang tidak konstan, mengalir memiliki pelbagai lintasan tanpa menjemukan. Melintasi malam dan siang dengan semangat ketidaksewenangan.

Membangun watak diatas tatanan baku telah mengatur segala perbuatan Lenis, Napalean, dan Ken; seperti keadaan bentuk skenario yang begitu kukuh. Perubahan dianggap tabu dan gila, demikian latah jika mereka melihatnya begitu berbeda. Mereka telah teratur menjalankan kebosanan ini. Memutar hari dengan mengorbankan dirinya terlindas waktu diatas ketentuan yang memilukan. Hati dan akalnya tak bergerak ingin beranjak menuju dunia baru. Demokrasi yang hendak menindas dirinya perlahan. Angan menggebu-gebu rapuh pada permainan pada rupa tak terpahat. Wajahnya samar dengan mata tertuju pada lazimnya satu bentuk imaji. Hidup yang hanya dipenuhi kekosongan dan kesia-siaan. Bermain pada satu dekade begitu mengangkangi kejumudannya. Nafsu yang dikebirinya menjadikan dia terpenjara tak memiliki hasrat kekreatifan.

Liyan tetap merenungi tragedi ini. Berharap do'a yang ia gemakan menjadi acuan aksi yang menggelora tanpa patah semangat. Kebohongan apa untuk diharapkan? Mata berbinar terpaku sia-sia satu sama lain. Lenis memiliki aura sinis pada peeadaban---paranoia melihat peristiwa yang terhayati. Suatu petaka sudah terjadi menyimpulkannya menjadi satu tema yang dianggapnya absurd.

"Mainkan saja apa yang dimainkan seperti kemarin", usik Napalean pada Liyan dengan wajah nampak gundah serta bingung. Nada memaksa oleh Napalean mengeluarkan rasa kebosanan sangat mendalam. Terprovokasi untuk membumikan kesia-siaan.

Diantara malam yang gemulai pendar akan cahaya dari gemintang, dan sorot lampu yang menusuk penglihatan menitihkan gemerisik dengan hati-hati. Nada bahasa yang selalu sama terucap sebagai tragedi yang diulang-ulang seperti naskah yang begitu kaku. Kesunyian wacana memperburuk suasana---memekikkan suara sumbang setiap kebisuan.

Tempat adalah wadah mempesona. Perihal tempat sebagai wadah sering dijadikan situasi aman yang amat tiba-tiba di duduki sampai lupa hendak bergerak. Berdiam diri dengan kesibukan masing-masing sebagai perolehan membosankan (memainkan atribut yang sama). Dengan lelah semua tetap pada aturan yang memaksanya. Berkeliling di tempat yang sama menghabiskan waktu sebagai tatanan terharuskan secara tidak sadar. Dan Liyan membuang mimpi-mimpi kebosanan ini.

Malam terusik dengan nyanyian yang dimainkan, sehingga terus berputar tanpa ritme yang menggubah (diam, selalu sama).
haci - muak